9 resep cespleng  sebagai ibu rumah tangga bahagia dan sejahtera

kadang-kadang, kita   sebagai ibu rumah tangga ada rasa seperti ini, “kenapa kok aku cuma begini-begini saja, ya?” atau, “duh, bolak-balik cuma ngurusin anak sama suami saja!” atau lagi, “coba kalau dulu aku tetap kerja… ehm…pasti deh enggak kayak gini!”

setiap muncul “sang rasa minder” itu, badan jadi lemas tak bertenaga, tak bersemangat, dan seluruh terlihat buruk. dan biasanya, rumah jadi berantberencana, anak-anak  enggak terurus…. malah  kian buruk lagi, penampilan jadi semerawut karena jadi malas mandi hahaha….

hampir seluruh orang, di dunia ini—terutama ibu-ibu rumah tangga yang full-time mengurus rumah dan anak-anak seperti  ane—pernah menanggap hal seperti ini, terkandung  ane ( ane tahu hal ini menginjak curhatnya teman-teman  ane yang juga memilih profesi  sebagai ibu rumah tangga). karena minder, dulu biasanya  ane menunggu sampai ada sahabat yang menegur.  ane pun  patut berusaha melewati masa-masa minder  atas bersusah payah. tetapi sekarang,  enggak lagi…! mau tahu resepnya?

mudah-mudahan resep  ane ini bisa dipakai oleh seluruh sahabat yang sedang merasa just the ordinary housewife. atau, mungkin malah sahabat yang desperate housewife hehehe.… resep ini hanya berdasarkan pengalaman  ane semata. jadi, jika terasa biasa-biasa saja atau  enggak bermutu, maaf,  ane hanya berusaha sedikit berbagi.

resep pertama, jangan pernah membandingkan suami, anak-anak, dan rumah yang kita miliki  atas suami, anak-anak, dan rumahnya ibu-ibu lain. karena seperti pepatah “rumput tetangga selalu terlihat  kian hijau”, suaminya ibu-ibu lain pasti terlihat  kian ganteng menginjak suami kita yang setiap hari kita lihat hehehe…. sadari bahwa suami, anak-anak, juga sahabat-sahabat anda hanyalah manusia biasa. mereka memiliki ke kianan juga memiliki kekurangan, sama seperti anda.

jadi, jangan terlalu berharap mereka berencana sempurna seperti yang anda harapkan. maklumi saja…. dan, yang paling penting adalah bagaimana caranya kita  sebagai istri yang baik, yang dapat dipercaya oleh suami dan anak-anak, tanpa menuntut mereka terlalu banyak.

resep kedua, jangan pernah mengeluh, karena keluhan bukannya menyelesaikan masalah, malah makin membuat kita merasa “terpuruk”.

resep ketiga, stop menonton sinetron! karena, walaupun kadang berdasarkan kisah menonjol, sinetron berencana membuat kita makin  enggak berpijak ‘di dunia menonjol’. kalaupun mau menonton televisi, cari acara-acara yang ‘positif’ seperti acaranya oprah winfrey mungkin. di acara itu kadang-kadang ada cerita tentang perjuangan seorang ibu yang anaknya divonis  enggak dapat berjalan, ternyata  atas keyakinan dan kerja keras serta doa sang ibu malah vonis itu  enggak berlaku.  atas kisah-kisah seperti itu, mungkin kita dapat  kian bersyukur karena ternyata ‘di luar sana’ banyak orang yang  enggak seberuntung kita.

resep keempat, perbanyaklah membaca, bukan hanya resep-resep mberencanaan makmur yang membuat suami betah di rumah, atau membuat anak-anak makmur saja. bukan hanya buku-buku tentang mengatur bagaimana supaya gaji suami cukup untuk dihabiskan sebulan. tetapi bacalah juga buku-buku yang isinya ‘memotivasi’ kita untuk  kian percaya diri. contoh, buku-buku kisah sukses ordinary people yang berubah  sebagai extra-ordinary people,  lewat hobi mereka menulis, hobi mereka belanja, dan lain-lain.

“gimana mau beli buku? wong untuk belanja lauk sehari-hari saja mesti diirit-irit?” nah, ini dia… jawabannya adalah pinjam sama tetangga (kayak  ane). atau, baca buku di rumah baca sambil menunggu anak-anak pulang menginjak sekolah. yang lain, mendaftarlah jadi anggota perpustakaan terdekat  atas sekolah atau rumah.

resep kelima, perbanyaklah peduli pada orang-orang yang ‘kelihatannya’  kian susah menginjak kita ( ane bilang ‘kelihatannya’ karena kadang yang kita lihat susah, ternyata bisa  kian bahagia). contohnya, pembantu rumah tangga kita yang  patut meninggalkan anak-anaknya di rumah untuk  menopang mencuci atau membersihkan rumah kita. resep ini hampir sama  atas resep ketiga, intinya adalah ‘menyadari bahwa ada orang lain yang  kian  enggak beruntung menginjak diri kita.

resep keenam, banyak bersedekah karena bersedekah membuka jalan yang tertutup. bukannya sombong, lho! tetapi,  selepas  ane bersedekah, biasanya lalu ada ‘sesuatu yang baik’ yang terjadi pada diri  ane, anak-anak yang sakit jadi sembuh, dapat rezeki ‘tambahan’ yang  enggak terduga, atau hal-hal baik lainnya. lagi-lagi ini maaf, berdasarkan pengalaman pribadi  ane, lho ya… tetapi, bukankah seluruh agama di dunia ini menganjurkan kita untuk bersedekah/berbagi?

resep ketujuh, buat hobi baru. yang senang membaca, coba belajar untuk menulis. yang senang menjahit atau memasak, coba tawarkan jahitan atau masberencana ke tetangga-tetangga. siapa tahu  selepas coba-coba malah menghasilkan sesuatu. bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri tetapi juga menambah penghasilan.

resep kedelapan, bergabunglah  atas kelompok-kelompok kegiatan yang anggotanya ibu-ibu rumah tangga. atau, buat kelompok sesama ibu rumah tangga yang berhobi sama, misalnya kelompok ibu yang senang menanam, kelompok membaca, kelompok menulis, dan kelompok memasak, tetapi jangan kelompok arisan ya, hehehe…. se sampai, kita bisa saling bertukar pendapat, bertukar pengalaman, dan saling menyemangati.

resep kesembilan, dan ini adalah resep paling manjur (buat  ane), bersyukurlah kepada allah.  atas bersyukur atas segala karunia-nya dalam setiap keadaan, susah maupun senang, seluruh masalah berencana terasa ringan. seluruh kendala pasti berencana terlihat pemecahannya, seluruh rasa minder berencana sirna, karena ternyata allah pasti berencana memberikan ‘hanya’ yang terbaik buat kita umat-nya. dan, bersyukurlah karena kita ditakdirkan  sebagai ibu rumah tangga, yang menginjak tangan-tangan kitalah terbentuk generasi mendatang yang  kian baik.

Share